AIKIDO & GESTURE

maaiokDidalam keseharian ada jarak privasi yang sangat kita jaga untuk keamanan dan kenyaman kita. Secara antropologi jarak privasi tersebut adalah intimate zone ( 15 -46 cm ) dan personal zone ( 46 cm – 2 m ). Personal zone adalah jarak umum yang kita temui ketika berkomunikasi dengan orang yang kita kenal contohnya jarak pembicaraan dalam sebuah acara family gathering maupun keharian kantor, sedangkan intimate zone adalah jarak yang hanya kita izinkan kepada mereka yang memiliki kedekatan kekuatan emosional kepada kita.

Dalam aikido jarak privasi tersebut adalah Ma-ai, yang berjarak sejangkauan lengan kita atau sejauh 1 langkah serangan untuk dapat terjadinya kontak fisik.

Close-up of hand by which businessman shakes handsBerjabat tangan adalah salah satu interaksi komunikasi yang masuk jarak privasi ini dan tidak hanya untuk orang yang sudah kita kenal baik tetapi juga untuk mereka yang baru kita kenal. Yang jadi masalah adalah ketika jabat tangan yang dilakukan itu bukan lagi suatu awal dari hubungan yang saling menghormati dan menghargai tetapi menjadi suatu awal intervensi dominasi demi memenangkan komunikasi maupun negosiasi, baik kita sadari atau tidak.

ctokkSalah satu dominasi dalam jabat tangan dimaksud tampak pada gambar disamping kanan, dimana salah satu orang initiate (memulai) jabat tangan dengan posisi punggung tangan diatas yang meyiratkan bentuk dominasi sehingga baik disadari atau tidak orang yang menerima bentuk jabatan tangan tersebut ‘dikondisikan’ untuk dalam kontrol si inisiator, dan sebenarnya si penerima jabat tangan itupun merasakan kondisi yang tidak nyaman dan berpotensi ‘dikalahkan’ dalam interaksi komunikasi maupun negosiasi selanjutnya. Dalam aikido hal seperti ini bisa diibaratkan sebuah bentuk awal serangan berupa atemi (pukulan) yang masuk kedalam ma-ai guna ‘mengalahkan’ si nage (penerima serangan).

Lalu bagaimana menetralisir dan mengatasi bentuk ‘serangan’ jabat tangan seperti ini ? Berikut beberapa cara yang dapat digunakan :

1. ctok2 Umumnya orang berjabat tangan dengan tangan kanan dan kaki kanan didepan, sehingga ketika menerima bentuk jabat tangan seperti itu kita segera melangkahkan kaki kiri kedepan sehingga posisi kaki kanan berada dibelakang dan secara halus posisi punggung tangan si inisiator dapat kita putar untuk di normalkan (punggung tangan disisi samping), sebagaimana gambar di atas.

2.  ctok3Bila cara no.1 diatas kurang efektif karena si inisiator bertangan besar dan kuat sehingga tidak bisa di putar posisi punggung tangannnya untuk dinormalkan maka cara kedua ini bisa dilakukan yaitu dengan menggunakan kedua tangan kita untuk memutar tangan si inisiator tersebut sebagaimana gambar diatas, dan agar smooth tentunya dilakukan dengan tetap eye to eye dengan si inisiator sembari tersenyum kepadanya.

3. Cara ketiga ini adalah cara terakhir jika memang ternyata si inisiator adalah orang yang bermaksud jahat kepada kita yaitu ia berjabat tangan sambil  mengintimidasi baik berupa ucapan (ancaman) maupun intimidasi fisik (salaman yang sangat kuat dan menyakitkan). Dalam kasus ini kita dapat menggunakan teknik eksekusi berupa waza (jurus) aikido diantaranya yaitu sankyo, tenbin maupun shiho nage, sebagaimana gambar berikut :

ctok4

Diharapkan dengan ulasan singkat di atas,  kita dapat dengan cerdas untuk  aware dalam berinteraksi dengan teknik komunikasi non verbal seperti ini sehingga dalam pergaulan sehari-hari  kita tetap dalam kondisi yang aman dan selamat dari kemungkinan ‘dikontrol’ dan ‘dikalahkan’ oleh mereka yang tidak bermaksud baik kepada kita.

 

Wallahu’alam bissawab ( والله أعلمُ بالـصـواب  ).

Mico Chandra

(JAC Headquarter Aikido Dojo Sidoarjo, Surabaya Selatan Jawa Timur)

(English Translation)