PENTINGNYA MEMILIHKAN DAN MEMBEKALI ANAK DENGAN BELADIRI

bocahAnak yang terlahir ke dunia ini selalu membawa ke’istimewaan’ nya tersendiri, dan menjadi tugas orangtua untuk mengarahkan dan membantu menemukan ke’istimewaan’ si anak tersebut. Namun demikian, faktor lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang bisa sangat berpengaruh, baik terkait orang-orang di lingkungan rumah, teman bermainnya (peer group), sekolah, tempat kursus dsb. Lingkungan rumah yang kondusif dan pendidikan dari orangtua diharapkan dapat membentuk anak menjadi anak yang baik, baik secara intelektual, emosional/sikap dan agamanya. Tetapi proses ini tidak sesederhana yang diperkirakan karena ada faktor lingkungan di luar rumah tempat dimana anak beraktivitas yang berpotensi menjadi rintangan dalam realitas proses yang akan dialami si anak, satu diantaranya adalah masalah Bullying. bully10  Bullying adalah  tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau mengontrol orang lain melalui cara kekerasan, bisa dalam bentuk fisik seperti memukul, mendorong, dan sebagainya ataupun dalam bentuk verbal seperti menghina, membentak, dan menggunakan kata-kata kasar. Bagaikan semacam penyakit kronis, korban tindakan bullying terjadi tidak secara tiba-tiba tetapi berlangsung secara perlahan (coba-coba) dan jika dibiarkan maka eskalasi ancamannya terus meningkat. bullyTarget bullying tidak bersifat random, tetapi spesifik setelah melihat dan mempelajari calon korban yang memang bisa untuk di bully. Superioritas/Senioritas, banyaknya rekan dalam kelompoknya, rasa iri ataupun energi ‘berlebih’ yang dimiliki bisa menjadi faktor pemicu tindakan bullying tersebut. Sebaliknya disisi lain, mereka yang lemah secara pribadi baik secara fisik, intelektual dan bersosialisasi sangat mungkin menjadi target korban bully karena hal pertama terjadi bullying adalah sikap/bahasa tubuh ‘calon’ korban bullying yang memang ‘mengundang’ untuk di bully bahkan mereka yang memiliki kecakapan intelektual atau berprestasipun bisa juga menjadi korban bully karena iri yang timbul dari si pem-bully. Oleh karena itu, sikap/bahasa tubuh yang mencerminkan kepercayaan diri dan tidak terlihat lemah menjadi faktor penting pencegah terjadinya bullying, dan beladiri (martial art) bisa menjadi salah satu sarana untuk mendapatkan kepercayaan diri dan tidak terlihat lemah tersebut. Berikut adalah beberapa manfaat yang dapat diperoleh anak dengan mengikuti pelatihan beladiri a.l :

  1. Mereka yang berpotensi ataupun telah menjadi korban bully  dapat belajar bagaimana seharusnya memiliki sikap tubuh yang tidak mudah di bully yang mencerminkan kepercayaan diri dan tidak terlihat lemah (layaknya seorang ‘ksatria’/samurai), diantaranya sikap tubuh dengan punggung yang tegak, kepala yang tidak menunduk (tetapi tidak juga mendongak/tidak terlihat sombong) dan munculnya ‘security awareness’ – insting antisipasi potensi bahayaakid
  2. Bagi anak yang memiliki energi ‘berlebih’ bahkan cenderung menjadi pem-bully, pelatihan ini dapat menjadi sarana untuk berlatih mengontrol diri dan emosinya dalam saluran yang terarah, sehingga dengan demikian akan muncul rasa empati bahwa menyakiti itu tidak baik sebagaimana ia pun dapat merasakannya sendiri, misalnya sakit karena pukulan ataupun kuncian.
  3. Sebagai jawaban terkait lingkungan bermain anak yang rentan dengan dorongan, pukulan, benturan dan jatuh sehingga menuntut refleks tubuh yang baik dan aman.kids3
  4. Lingkungan sekitar anak sebenarnya tidak terlepas dari keberadaan benda-benda tajam atau benda lainnya yang berpotensi digunakan untuk menyakiti rekan sepermainannya, oleh karena itu dengan pelatihan ini mereka diperkenalkan dan diarahkan diantaranya bagaimana menggunakan  senjata tajam (dalam bentuk dummy dari kayu) dengan baik dan bijak yaitu tidak takut maupun tidak berlebihan/sembrono karena senjata tersebut bisa membahayakan dirinya maupun orang lain.kid2
  5. Teknik dan prinsip-prinsip beladiri yang dipelajari baik berupa terapan jurus maupun prinsip seorang ksatria (“The Seven Virtues of Bushido” -7 Nilai Ksatria ) bushidojacakan membentuk karakter yang baik dan menjadi bekal si anak dalam menghadapi tantangan kehidupan di depan karena sesungguhnya bullying yang terjadi tidak berhenti dimasa anak-anak saja tetapi terus ada apakah dikampus, ditempat kerja bahkan dalam lingkungan bermasyarakat , bully2sehingga diharapkan kemanfaatan yang diperoleh dari pelatihan beladiri ini tidak hanya untuk dirinya pribadi tetapi juga untuk orang lain dan lingkungan sekelilingnya.

Pertanyaannya sekarang adalah Beladiri apa yang direkomendasikan? Usia berapa anak bisa mulai latihan beladiri ? ….

Secara umum beladiri dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu Beladiri Prestasi dan Beladiri Klasik. Beladiri Prestasi adalah beladiri yang dipertandingkan dalam sebuah arena/kejuaraan dimana didalamnya terdapat batasan a.l : area serang, wasit yang mengawasi pertandingan, juri yang menilai dan penonton (entertainment/game). Contoh beladiri ini a.l : Karate, Taekwondo, Silat, Judo dll.  Beladiri Klasik adalah beladiri yang tidak dipertandingkan dalam sebuah arena/kejuaraan karena sifatnya yang ‘lethal’, ‘no rules’, bukan untuk hiburan/entertainment , bukan ‘game‘ dan dipakai untuk membeladiri dalam sebuah perkelahian atau pertempuran yang sebenarnya tanpa ada batasan sebagaimana yang terdapat pada beladiri prestasi. Contoh beladiri ini a.l : Aikido, Kenjutsu, Iaijutsu dll. klasikprestasi copy Saat ini pelatihan beladiri bisa juga kita jumpai disekolah bahkan menjadi bagian dari kegiatan ekstrakurikuler siswa diantaranya Silat, Karate, Taekwondo, Aikido dll. Namun demikian umumnya sekolah lebih memilih jenis beladiri pretasi karena prestasi yang diperoleh dari pertandingan pada jenis beladiri ini bisa menjadi kebanggaan bagi si anak, orangtuanya dan tentunya pihak sekolah karena nama sekolah tersebut terangkat dan terkenal karena prestasi ini. piala2Namun demikian, pilihan terhadap beladiri prestasi ini bukan tanpa konsekuensi karena intensitas pertandingan yang dilakukan dengan ragam pukulan dan tendangan ataupun benturan yang diterima, terutama disekitar bagian kepala dan muka, akan berpengaruh kepada si anak, diantaranya bisa secara fisik (cedera) ataupun mental/psikologi yang agresif dan kompetitif dimana kemenangan didefinisikan dengan ‘kekalahan’ bahkan ‘K.O’ nya si lawan/kompetitornya, bahkan kalaupun si anak memilih tidak ikut kompetisi /kejuaraan dan cukup untuk mengikuti proses latihannya saja, karakter dari beladiri ini tetap melekat dan tetap berpengaruh kepada pribadi si anak karena memang sudah menjadi pola baku latihannya. Jika pilihannya ingin menjadi atlit beladiri prestasi, jenis beladiri ini cocok untuk menjadi pilihan.

Bilamana beladiri yang dimaksud adalah cukup untuk membekali anak dengan skill beladiri maupun pembentukan karakter/disiplin yang baik diantaranya guna menghindari dan menjaga diri dari potensi bullying sebagaimana uraian diatas maka beladiri klasik bisa menjadi pilihan. ken Namun demikian karena sifatnya yang tidak dipertandingkan (tidak adanya lawan) ada 1 hal yang mesti dicermati dalam memilihkan anak pada jenis beladiri klasik ini yaitu adanya kecenderungan sebagian praktisi pada jenis beladiri klasik untuk menjadikan beladiri ini terlihat ‘gampang’, ‘santai/main-main’ dan kurang ‘greget’ bahkan lebih dikelola sebagai sebuah bisnis/industri ketimbang sebagai sebuah Dojo Martial Art yang melatih efektifitas skill beladiri dan pembentukan karakter seorang Bushido (ksatria). Oleh karena itu jangan buang waktu dan biaya hanya untuk Fake Martial Art-Fake Blact Belt-Fake You dan seragam yang digunakan tidak lebih dari sekedar cos play average-black-belt Dari uraian pemilihan terkait kedua jenis beladiri diatas, ada 1 peran yang sangat penting yang tidak bisa diabaikan yaitu Pelatih, karena pelatihlah yang nantinya diharapkan akan membawa anak didiknya kepada manfaat pelatihan beladiri ini. Jika Beladiri Prestasi dipimpin oleh pelatih yang hanya menekankan kepada skill utk kejuaraan saja dan mengesampingkan pembinaan sikap mental dan karakter yang baik maka dikhawatirkan yang muncul adalah murid dengan temperamen yang keras, kemenangan adalah hancurnya/kalahnya si lawan dan berpotensi sebagai pem-bully. karate_kidBegitupula dengan Beladiri Klasik, jika dipimpin oleh pelatih yang kasar, sewenang-wenang dan ‘bisa atau mau’ menciderai muridnya maka yang dihasilkan bukanlah kemanfaatan bagi si murid melainkan bentuk bullying dari ‘si pelatih’, atau pelatih yang hanya menekankan pada sisi bisnis/industri semata atas komunitas yang terbentuk dan mengesampingkan pelatihan skill beladiri yang efektif maupun pembentukan karakter seorang Bushido (ksatria) maka yang dihasilkan adalah  Fake Martial Art-Fake Blact Belt-Fake You dan cosplay  sebagaimana uraian sebelumnya diatas. sense youtube copyOleh karena itu carilah pelatih dengan track record (pengalaman berlatih dan melatih) yang baik dan jelas dan tentunya dengan ‘sanad’ keilmuan dan keguruan yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan dari hasil ‘googling’ maupun sekedar ‘tahu’ dari Youtube, dan dengan kepelatihan yang baik inilah maka akan terbentuk lingkungan dan komunitas dojo yang baik, yang relevan terkait tujuan (manfaat) pelatihan beladiri sebagaimana diuraikan diatas.

Lalu, usia berapa anak bisa mulai latihan beladiri ?

kidgirlSebenarnya sejak usia dini (sekitar usia 5 tahunan) anak bisa diperkenalkan dan mengikuti pelatihan beladiri  asalkan mampu mengikuti arahan dari pelatih  (dan tentunya) dengan sistem pelatihan yang telah disesuaikan dengan ‘dunia’ si anak diantaranya yaitu permainan yang mengarah kepada pengenalan dasar-dasar beladiri.

Oleh karena beladiri bisa diikuti sejak usia dini, maka pelatihan yang dilakukan terus menerus/seumur hidup (longlife learning) baik sebagai sebuah hobi ataupun sebuah budo (jalan beladiri), akan sangat berpengaruh pada pembentukan karakter praktisinya. Teknik dan prinsip beladiri yang dilatihkan secara terus menerus (repetisi) tersebut akan tertanam di alam bawah sadar (subconscious mind) hingga akhirnya menjadi sebuah karakter, bahkan secara teknis bisa dikatakan bahwa ‘bukan otak lagi yang mengingat tetapi tubuh/otot telah memiliki ingatannya sendiri’ sehingga munculah apa yang disebut dengan refleks.

Mengingat pentingnya pemilihan beladiri ini khususnya terkait pembentukan karakter (character building) tersebut maka diharapkan pemilihan beladiri yang diikuti tidak hanya mempertimbangkan skill beladiri yang didapat tetapi juga pembentukan karakter yang baik layaknya seorang ‘samurai’ sebagaimana tersebut dalam  “The Seven Virtues of Bushido” -7 Nilai Ksatria, karena kf1sesungguhnya beladiri yang dipelajari sejatinya tidak hanya sekedar ‘Martial Art’ melainkan ‘The Art of Killing’, sehingga memiliki ilmu beladiri tanpa ada adab (karakter) yang baik didalamnya bagaikan membentuk ‘killer machine’-mesin pembunuh-yang tidak hanya membahayakan orang lain dan lingkungan sekitarnya tetapi juga dirinya sendiri. Oleh karena itu, Aikido menjadi salah satu beladiri yang direkomendasikan sebagai pilihan untuk pembekalan beladiri anak.

Kenapa Aikido ?

Ai               Penggabungan yang harmonis
Ki               Inti kehidupan dan jiwa
Do             Jalan atau cara
Aikido     Harmonisasi Gerak tubuh, jiwa & pikiran dengan Ki

osensei_throwAikido adalah beladiri yang tekniknya dihasilkan dari baiknya kontrol diri (harmonisasi) terhadap tubuh, jiwa dan pikiran praktisinya, sehingga diharapkan teknik yang dilakukan dapat mengharmonisasi disharmonis yang dilakukan oleh si lawan, bukan ikut-ikutan disharmonis karena emosional yang terpancing. Bahkan O Sensei Morihei Ueshiba (Founder of Aikido) mengatakan bahwa Aikido adalah Spiritual Martial Artyang tidak tercermin dalam objek objek fisik  yang akan memancing pertikaian tiada akhir karena pertentangan dua kekuatan, melainkan menekankan pada tahapan yang lebih tinggi yang didasari oleh cinta dan tidak pernah berusaha untuk mencari musuh.

” A mind to serve for the peace of all human beings in the world is needed in Aikido, and not the mind of one who wishes to be strong or who practices only to fell an opponent”

Secara teknis, Aikido dapat digunakan sebagai beladiri praktis dalam menghadapi potensi ancaman/bahaya/bullying, baik berupa munculnya security awareness, teknik yang efesien dan efektif maupun teknik eksekusi yang bisa melumpuhkan namun tidak menciderai. Bahkan sebagai sebuah kontrol diri praktisinya, teknik Aikido yang dilakukan sewenang-wenang yang dihasilkan dari jiwa yang buruk akan berbalik menyerang ‘merobek’ diri pelakunya sendiri, sebagaimana yang pernah disampaikan O Sensei sbb :

thesensei“Semua teknik Aikido harus dihubungkan dengan prinsip-prinsip universal. Teknik-teknik yang tidak dihubungkan dengan prinsip-prinsip yang lebih tinggi akan menyerang balik diri sendiri dan merobek tubuhmu. Dalam Aikido, perubahan adalah inti dari teknik. Tidak ada bentuk dalam Aikido. Karena tidak ada bentuk, Aikido adalah belajar atas roh dan semangat. Jangan tertangkap oleh bentuk, jika kamu tertangkap, kamu kehilangan semua perbedaan-perbedaan halus yang berfungsi dalam teknik-teknik. Dalam Aikido, ketajaman spiritual adalah nomor satu, reformasi dari hati adalah kedua. Sebuah teknik sejati didasari pikiran yang sejati dan benar. Gunakan tubuhmu untuk memanifestasikan roh dalam bentuk fisik”  (Seni Damai -The Art of Peace, halaman 57).

akid1Oleh karena itu, dengan karakter beladiri Aikido yang baik ini, diharapkan pelatihan yang dilakukan menghasilkan tidak hanya penguasaan skill beladiri semata tetapi juga terbangunnya karakter yang baik dari sisi attitude (akhlak/sikap/emosional) maupun agamanya yang bermanfaat untuk diri si praktisi dan juga lingkungan sekitarnya.

aikido goal

 

Wallahu’alam bissawab ( والله أعلمُ بالـصـواب  ).

Mico Chandra

(JAC Headquarter Aikido Dojo Sidoarjo, Surabaya Selatan Jawa Timur)